Friday, April 20, 2007

Welcome to Brunei Darussalam!

Alhamdulillah. Senin siang saya sampai di Brunei. Tinggal di negeri Hasanal Bolkiah sampai hari Jumat siang di the Empire Hotel, Jerudong (sekitar 30 menit dari Bandar Seri Begawan).

Saya harus berterima kasih pada Islamic Development Bank (i.e., Islamic Research and Training Institute) and Universiti Brunei Darussalam (i.e., Centre for Islamic Banking, Finance and Management) atas grant yang diberikan untuk mengikuti the First International Conference on Inclusive Islamic Financial Sector Development. Mereka telah berbaik hati menyediakan tiket, akomodasi dan juga konsumsi selama berlangsungnya conference.

Bagi saya, conference ini tidak hanya memperluas jaringan antar scholars, namun juga menarik kembali minat saya tentang sektor ekonomi dan keuangan Islam. Bahwa ada yang tidak beres dalam sektor ini, ini sudah menjadi concern saya sejak lama. Tetapi conference kali ini telah kembali menyemangati saya untuk menyuarakan ketidakberesan tersebut untuk dibenahi.

Dari sekian banyak presentasi, ceramah Prof. Hatem El-Karanshawy, Prof. M.A. Mannan, dan beberapa presentasi tentang BMT (wabil khusus presentasi Ersa Ubinus) merupakan bagian yang menarik perhatian besar saya. Satu yang saya sangat ingat dari Prof. Hateem adalah ketika ia mengatakan, “Kita akan membunuh lembaga keuangan Islam jika hanya berkutat pada soal pelebelan (soal nama, soal kulit)”. Ia menggaris bawahi pentingnya berorientasi pada substansi yang lebih fundamental dari apa yang dinamakan lembaga keuangan Islam. Ceramah Prof. Mannan soal Grameen Bank membuka banyak hal tentang ketidakberesan lembaga ini. Terlepas dari kontribusi positif yang mungkin telah diberikan lembaga keuangan ini bagi sebagian masyarakat Bangladesh, ceramah Prof. Mannan memberikan perspektif yang berbeda terhadap Grameen Bank sebagai “Bank Rakyat”. Paper-paper tentang BMT tidak lain kecuali mengisyaratkan banyaknya hal yang harus dibenahi pada BMT, terutama soal akuntabilitas keuangan dan akuntabilitas oprasionalisasi konsep syariah. Jika tidak, seperti kata Prof. Hatem, kita hanya akan membunuh lembaga keuangan Islam.

Di luar jadwal conference yang padat, saya bersyukur bisa mengeskplor Bandar Seri Begawan, yakni di hari pertama dan hari terakhir saya di Brunei. What do I think? Well, memang ini kota kecil dan relative sepi untuk ukuran ibukota negara. Tapi, Bandar memang cantik. Kebesaran sultan terlihat di berbagai tempat. Di Museum Royal Regalia misalnya, di situ ada replikasi pelantikan sultan-sultan Brunei, terlihat betapa kemegahan dan kemewahan sangat lekat dengan kesultanan Brunei Darussalam. Barang dan benda berlapis emas tampak di mana-mana. Mengisyaratkan betapa kayanya Brunei Darussalam saat ini. Tidak heran, kata seorang Brunei yang menemani tour saya, untuk sekolah SD di sini, orang cuma membayar B$ 12 per tahun. Jadi, seperti membayar B$ 1 per bulan. Mahasiswa pun diberi stipend bulanan, kalau tidak salah B$ 300 per bulan. Konon pajak pun di sini tidak ada. Tidak hanya itu, ekspatriat yang tinggal di sini pun diberi “gaji” sekedar sedekah dari Sultan.

Namun demikian, kesan feodalisme yang kental tidak bisa dihilangkan. Ini memang negara kerajaan, Bung! Jika setiap lini diisi oleh keluarga istana, atau setiap instrument vital negeri ini dikuasai oleh keluarga istana, atau kritik dan berita negative tentang istana dilarang, itu wajar. Kesan feodal itu bahkan juga tampak di dunia akademik. Ketika seorang pejabat rektor Universitas Brunei maju memberikan kata sambutan, seorang yang juga pejabat setingkat kepala pusat penelitian, dan tadinya duduk bersebalahan dengan “beliau”, pun harus turut berdiri di belakang sang rektor. This person did nothing but standing up behind the vice chancellor until the end of the speech. Saya sungguh tidak membayangkan hal ini terjadi di universitas-universitas di Barat, even di Indonesia saat ini.

No comments:

Post a Comment