Thursday, July 19, 2007

Tanah Airku Indonesia

Ketika membaca postingan seorang kawan tentang lagu nasional berjudul "Tanah Airku" di sebuah milis alumni dinihari tadi, lamat-lamat saya juga turut melantunkan bait-baitnya.



Hidup jauh dari tanah tumpah darah sungguh menimbulkan kecintaan pada Indonesia yang tidak rasional dalam diri saya. Apapun yang berbau Indonesia di sini, memberikan getaran-getaran aneh yang merindukan dalam lubuk sanubari. Apapun bentuknya itu.

Di kebun binatang Adelaide misalnya, ada gerbang kecil dengan dua sisi di kanan kirinya. Satu sisi bertuliskan "Welcome", satu sisi bertuliskan "Selamat Datang". Selamat datang!! Dan saya tidak perlu menceritakan bagaimana "bangga"-nya saya, dan sekaligus betapa "rindunya" saya pada negeri tercinta.

Di Central Market, semacam Pasar Beringharjo kalau di Jogja, ada toko Asian Groceries,supermarket kecil namanya Thuan Phat. Itu yang punya orang Vietnam. Di situ banyak dijual segala macam produk Asia, termasuk Sarimi, Bumbu Pecel, dan Ikan Sarden Kalengan produk "Muncar", sebuah kecamatan kecil di Banyuwangi selatan, tempat saya dilahirkan!

Di Thuan Phat ini, kadang-kadang diputar alunan musik untuk "menghangatkan" suasana. Biasanya lagu-lagu "Chui-Lan-Thong" dan "Chui-Lan-Thai" yang saya tentu tidak kenal dan tak paham artinya. Tetapi Sabtu siang itu tidak seperti biasa. Saya seperti sangat mengenal alunan musik yang diperdengarkan. Dan saya sangat menikmatinya. Anda tahu, lagu apa yang diputar? Itu lagu-lagu yang ngepop di negeri kita akhir tahun 1980an. Ada lagu "Si Jantung Hati" (dinyanyikan Ade Putra). Syairnya di antaranya begini: "Engkau berjanji hanya aku yang kau nanti...Tapi kini semuanya hanya mimpi...Oo Si Jantung hati..Ooo Si jantung hati". Ya begitulah kira-kira. Walhasil, siang itu saya "putar-putar" di Thuan Phat lebih lama dari biasanya. Bukan karena mau belanja banyak barang. Cuma mau mendengar lagu Indonesia itu sampai habis dan tidak diputar lagi.

Perasaan "bangga" dan "kasmaran" pada negeri leluhur itu juga saya rasakan setiap kali ketemu Bule atau orang asing yang bisa bahasa Indonesia. Dan di sini, tidak sekali dua kali saya mendapatinya. Mungkin karena secara geografis Australia dekat dengan Indonesia, jadi banyak yang belajar bahasa Indonesia. Kalau cuma kata "terima kasih", tidak usah ditanya. Di Central Market itu, ada beberapa penjual yang kalau kita beli pada mereka, dan tahu wajah Indonesia kita, pasti dia bilang "Terima Kasih". Ya cuma "terima kasih" itu yang mereka bisa. Diajak ngobrol lebih jauh, "I don't know." :)

Saya tahu, wajah negeri kita sangat muram. Apalagi kalau dilihat dari luar. Tapi sungguh, itu tidak menyurutkan rasa cinta saya, yang tidak rasional, kepada Indonesia raya. Cinta yang tidak rasional ini pula yang selalu mendorong saya untuk mencopoti leaflet kampanye hitam tentang Papua di papan-papan pengumuman di kampus. Itu tidak sekali dua kali saya lakukan. Setumpuk brosur tentang Papua yang ada di meja kecil dekat pintu exit perpustakaan (biasa orang taruh segala macam brosur di situ untuk diambil pengunjung), saya ambil semua dan saya masukkan ke dalam tas. Saya bawa pulang dan saya masukkan ke tong sampah, semuanya.

Sungguh, kalau ada orang bertanya, saya tidak tahu kenapa saya melakukan ini. Saya tahu ada ketidakadilan di bumi Papua. Saya tahu ada eksploitasi kapitalisme global di bumi cendrawasih itu. Tapi, lagi-lagi cinta saya yang tidak rasional kepada negeri tercinta membuat saya harus melakukan sesuatu untuk "menyelematkan" muka Indonesia, sejauh yang saya mampu.

No comments:

Post a Comment