Selada air namanya. Itu sayur favorit saya. Mudah didapat di Banyuwangi, tidak terlalu sulit didapat sini. Bedanya, kalau di kampung halaman saya itu, seikat harganya Rp 500 (itu sudah termasuk mahal), di Adelaide harganya $ 2 (sama dengan harga telur satu lusin yang biasa saya beli di pom bensin dekat rumah).
Kamis kemarin, waktu belanja di Thuan Phat (toko Asian Groceries di Central Market), saya mendapati selada air yang lumayan murah. Seikat harganya cuma $ 1.8, dengan kuantitas yang lebih banyak dari yang biasanya dua dollar. Yang dua dolaran itu paling cuma cukup untuk makan sepiring nasi (kalau belinya seikat). Sedang yang satu dolaran delapan sen itu, seikatnya bisa untuk kawan makan tiga piring nasi. Lumayan kan? Jarang-jarang saya mendapatkannya. Memang biasanya, yang dua dolaran itu, dapatnya tidak di Thuan Phat, tapi di toko Asian Groceries lain, yang tempatnya juga di Central Market. Baru kemarin saya menemukannya di Thuan Phat.
Saya kemudian teringat salah satu kawan karib saya waktu di Tsanawiyah dulu. Namanya Nur Kholis. Rumahnya “jauh di gunung”. Nama daerahnya Pesucen, sekitar 7 km dari pusat kota Banyuwangi. Meskipun jauh, yakni harus naik kendaraan dua kali dan salah satunya harus dengan kendaraan model pick up jumbo, tapi saya suka main ke rumahnya. Dia punya kebun durian. Di dekat kebun itu ada sumber mata air yang dingin dan sangat jernih. Kita bisa mandi di situ. Dan, di dekat sumber itu, ada “kebun” selada air yang luas. Saya dan kawan-kawan bebas memungut selada-selada, langsung dari genangan air yang mengalir jenih. Jadi kalau main ke rumah Nur Kholis ini, saya bisa pulang dengan membawa “oleh-oleh” selada air yang masih segar-segar. Wah, apakah “kebun” selada itu masih ada ya? Sudah lama sekali saya tidak ke sana.
No comments:
Post a Comment